About

This is default featured post 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured post 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured post 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured post 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured post 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Photobucket Photobucket
Tampilkan postingan dengan label sejarah pendidikan islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sejarah pendidikan islam. Tampilkan semua postingan

Jumat, 10 Februari 2012

PENDIDIKAN ISLAM PADA MASA KHULAFAUR RASYIDIN

TUJUAN, PRINSIP DAN KEBIJAKAN PENDIDIKAN ISLAM PADA MASA AL KHULAFAUR RASYIDIN DAN BANI UMAYYAH
1. Tujuan Pendidikan Islam pada Masa Al Khulafaur Rasyidin dan Bani Umayyah
Pendidikan islam masa pertumbuhan dan perkembangannya serta pada masa berikutnya mempunyai dua sasaran, yaitu: pertama, generasi muda (sebagai generasi penerus) dan masyarakat bangsa lain yang belum menerima ajaran agama islam, dan sasaran kedua yaitu, penyampaian ajaran islam dan usaha internalisasinya dalam masyarakat bangsa yang baru menerimanya yang didalam islam lain disebut sebagai dakwah islam. Sedangkan dalam yang sama yaitu pew arisan ajaran islam kepada generasi penerus di sebagai pendidikan islam.

2. Prinsip-prinsip pendidkan islam pada masa Khulafaur Rasyidin dan Bani Umayyah
Dalam operasionalisasi penyebaran agama islam, islam mendasarkan pada dan prinsip. Pertama, adakalanya menerima sebagian dari unsur-unsur budaya manusiawi yang telah berkembang didaerah tertentu sepanjang dapat diarahkan dan diwarnai sebagai budaya yang islami. Kedua, apabila budaya yang telah berkembang tersebut.
3. Kebijakan Pendidikan Islam pada Masa Khulafaur rasyidin dan Bani Umayyah
Setelah nabi wafat, sebagai pemimpin umat islam adalah Abu Bakar Ash Shiddiq . ia diangkat sebagai khalifah untuk menggantikan nabi Muhammad Saw dan melanjutkan tugas-tugasnya sebagai pemimpin agama dan pemerintahan. (Badri Yasim, 2001: 36). Pada masa Abu Bakar , karena ia diguncang oleh pemberontakan dan orang-orang murtad yang enggan membayar zakat, dan ia menganiayanya dengan memerangi mereka. Maka tidak sedikit umat islam yang terdiri dari sahabat yang hafal Alqur’an gugur dalam peperangan itu.
Anda mungkin juga meminati:

SISTEM PENDIDIKAN ISLAM DI INDONESIA

Artikel ini masih berkaitan dengan proses masuk dan berkembangnya islam di Indonesia

Sistem Pendidikan Non Formal
Pada awal perkembangannya islam di Indonesia, pendidikan islam di Indonesia dilaksanakan secara informal. Agama islam datang ke Indonesia dibawa oleh para pedagang muslim.
Dalam operasionalisasinya, mereka melakukan pendidikan dan menyebarkan agama islam dengan
perbuatan, dengan contoh dan suri tauladan. Pada waktu itu para pendakwah islam melaksanakan penyiaran
agama islam kapan saja., dimana saja, dan kepada siapa sajayang ditemui oleh mereka. Pendidikan dan pengajaran secara informal ternyata membawa hasil yang sangat baik.

Mereka dibiasakan untuk melakukan perbuatan-perbuatan dengan didahului membaca basmalah. Usaha-usaha pendidikan agama dimasyarakat yang kelak dikenal dengan pendidikan non formal. Dimasyarakat yang kuata agamanya ada tradisi yang mewajibkan anak-anak yang sudah berumur 7 tahun.
Modal pokok yang dimiliki mereka adalah semangat menuntut ilmu agama bagi anak-anak. Implementasi pendidikan dipusat-pusat pendidikan non formal seperti surau, langgar, masjid, serambi rumah sang guru adalah berkumpul murid besar dan kecil.
Motivasi lain yang mendorong untuk didirikannya pesantren adalah keinginan untuk lebih mengintensifkan  pendidikan pada anak-anak. Pondok berarti tempat menginap (asrama). Pesantren berarti tempat para santri mengaji agama islam. Pondok pesantren adalah tempat murid-murid mengaji agama islam.
Unsur-unsur Pokok dari Suatu Pesantren itu Ada 5, yaitu:
a.  Pondok
b.  Masjid
c.  Santri
d.  Kyai
e.  Pengajaran kitab-kitab klasik
Santri dapat digolongkan kepada dua kelompok, yaitu:
1.  Santri mukim
2.  Santri kalong
Kyai adalah tokoh sentral dalam suatu pesantren. Kitab-kitab klasik yang diajarkan di pesantren digolongkan kepada 8 kelompok, yaitu:
1.  Nahwu
2.  Fiqih
3.  Ushul fiqh
4.  Hadist
5.  Tafsir
6.  Tauhid
7.  Tasawuf
8.  Etika
Berdasarkan bangunan fisik, pesantren dapat dipolakan menjadi lima pola:
1.  Pola pertama, pesantren yang hanya memiliki dan mengoptimalkan masjid dan rumah kyai
2.  Pola kedua, pesantren dan fasilitas fisik menjadi rumah kyai, pondokan
3.  Pola ketiga, pesantren dengan fasilitas, fisik, masjid,rumah kiyai dan madrasah
4.  Pola keempat, pesantren dengan fasilitas masjid, rumah kyai, pondok dan tempat keterampilan
5.  Pola kelima, pesantren yang memiliki fasilitas fisik masjid, rumah kyai, pondok
Adapun susunan pendidikan dan pengajaran islam pada zaman sultan agung mataram:
a.  Tingkat rendah pengajian Alquran
b.  Tingkat menengah pesantren desa (pengajian kitab)
c.  Tingkat tinggi pesantren besar
d.  Tingkat tinggi pesantren keahlian
Isi Pendidikan Islam di Indonesia
Tujuan yang hendak dicapai ada yang bersifat tujuan akhir, yaitu menjadikan muslim yang paripurna. Isi pendidikan islam yang diajarkan untuk mencapai tujuan tersebut adalah pokok-pokok aqidah islam dan ajaran-ajaran islam yang mudah dipahami dan dilaksanakan.
Isi pendidikan islam pada tingkat permulaan meliputi :
a.  Belajar membaca Alqur’an
b.  Pelajaran dan praktek shalat
c.  Pelajaran ketuhanan (teologis)
Pada tingkat yang lebih tinggi diajarkan :
1.  Bahasa arab
2.  Ushul fiqh
Apabila generalisasi isi pendidikan dan pengajaran agama islam baik yang diajarkan disurau-surau, langgar, masjid maupun pondok pesantren adalah sebagai berikut:
a.  Pengajian Alqur’an yang pelajarannya meliputi:
1)  Huruf hijaiyah dan membaca Alqur’an
2)  Ibadah praktek dan perikunan
3)  Keimanan (sifat duapuluh)
b.  Pengajaran kitab yang pelajarannya meliputi:
1)  Ilmu sharaf
2)  Ilmu nahwu
3)  Ilmu fiqh
4)  Ilmu tafsir
Isi pendidikan islam formal di Indonesia
1.  Ilmu nahwu
2.  Ilmu fiqh
3.  Ilmu tafsir
4.  Ilmu tauhid
5.  Ilmu hadist
6.  Ilmu musthalahul hadist
7.  Ilmu mantiq
8.  Ilmu ma’ani
9.  Ilmu bayan
10.Ilmu badi’
11.Ilmu ushul fiqh
Sekolah Umum yang sederajat misalnya:
a.  Al Jami’ah di sunayang Batu sangkar
b.  Sekolah guru islam
Madrasah ibtidaiyah pelajarannya meliputi:
1.  Ilmu-ilmu agama
2.  Bahasa arab
3.  Pengetahuan umum
Madrasah tsanawiyah pelajarannya meliputi:
1.  Ilmu-ilmu agama
2.  Bahasa arab
3.  Pengetahuan umum
Sekolah guru islam pelajarannya meliputi:
1.  Ilmu-ilmu agama
2.  Bahasa arab dan kesusastraannya
3.  Pengetahuan umum, yaitu:
     -    Berhitung dagang
     -    Al jabar
     -    Ilmu ukur
     -    Ilmu alam
4.  Ilmu-ilmu mendidik dan mengajar
5.  Ilmu jiwa
6.  Ilmu kesehatan

PENDIDIKAN ISLAM PADA MASA BANI ABBASIYYAH

TUJUAN DAN KURIKULUM PENDIDIKAN ISLAM PADA MASA BANI ABBASIYYAH
1. Tujuan Pendidikan Islam pada Masa Bani Abbasiyyah
Pada masa Abbasiyyah tujuan pendidikan ada bermacam-macam, yaitu:
   a. Tujuan keagamaan dan akhlak
   b. Tujuan kemasyarakatan
   c. Cinta kepada ilmu pengetahuan serta senang dan merasa lezat memperoleh ilmu
   d. Tujuan kebendaan

2. Kurikulum Pendidikan Islam pada Masa Bani Abbasiyyah
   a. Kurikulum pendidkan dasar (kuttab), pelajarannya adalah:
      1. Membaca Alqur’an dan menghafalnya
      2. Pokok-pokok agama islam, seperti cara berwudhu, shalat, puasa, dsb
      3. Menulis
      4. Kisah atau riwayat orang-orang besar islam
      5. Membaca dan menghafal syair-syair atau natsarl (prosa)
      6. Berhitung
      7. Pokok-pokok nahwu dan sharaf ala kadarnya
   b. Kurikulum pendidikan menengah, pelajarannya adalah:
      1. Alqur’an                                      8.  mantiq
      2. Bahasa Arab dan kesusastraanya 9.  Ilmu falak
      3. Fiqih                                          10. Tarikh (sejarah)
      4. Tafsir                                         11. Ilmu-ilmu alam
      5. Hadist                                        12. kedokteran
      6. Nahwu/sharaf/balagoh                13. musik
      7. Ilmu-ilmu pasti  
c. Kurikulum pendidikan tinggi
Rencana pelajaran pada perguruan tinggi islam, dibagi 2 jurusan, yaitu:
1. Jurusan ilmu-ilmu agama dan bahasa serta sastra arab atau disebut ilmu-ilmu naqliyah
2. Jurusan ilmu-ilmu umum, atau disebut ilmu aqliyah
LEMBAGA PENDIDIKAN ISLAM NON FORMAL PADA MASA BANI ABBASIYYAH
Pada masa Abbasiyyah, kebudayaan islam berkembang pesat, termasuk dalam aspek pendidikan islam, bahkan pada masa ini merupakan masa kejayaan pendidikan islam. Lembaga-lembaga pendidikan islam non formal yang berkembang pada masa ini adalah:
1. Kuttab / Maktab
Kuttab adalah tempat belajar menulis, sebelum datangnya islam kuttab telah ada di negeri arab, walaupun belum banyak dikenal. Diantara penduduk Mekkah yang mula-mula belajar menulis huruf arab ialah: Sufyan ibnu Umayyah ibnu Abdu Syam dan Abu Qais ibnu Abdi Manaf ibnu Zuhroh Ibnu Kilat.
2. Pendidikan Rendah di Istana
Pendidikan rendah di istana didirikan atas pemikiran khalifah dan keluarganya serta para pembesar istana bahwa pendidikan itu diselenggarakan untuk menyiapkan anak didik agar mampu melaksanakan tugas-tugasnya kelak setelah ia dewasa.
Guru yang mengajar pada pendidikan rendah diistana disebut “muaddib” karena berfungsi mendidik budi pekerti dan mewariskan kecerdasan dan pengetahuan-pengetahuan orang-orang dahulu kepada anak-anak pejabat.
3. Toko-toko Kitab
Pada mulanya toko-toko kitab berfungsi sebagai tempat berjual beli kitab-kitab yang telah ditulis, kemudian bertambah lagi fungsinya sebagai tempat berkumpulnya para ulama, pujangga dan ahli-ahli ilmu pengetahuan lainnya, untuk berdiskusi, berdebat dan bertukar pikiran dalam berbagai masalah ilmiah.
4. Rumah-rumah para ulama
Rumah-rumah para ulama dan para ahli ilmu pengetahuan menjadi tempat belajar dan tempat pengembangan ilmu pengetahuan, disebabkan karena ulama dan para ahli itu tidak mungkin memberikan pelajaran di masjid. Diantara rumah ulama terkenal yang menjadi tempat belajar adalah rumah Ibnu Sina, Al Ghozzali, Ali Ibnu Muhammad Al fashih, Ya’kub ibnu Killis, Wazir khalifah Al Aziz billah Al fatimy, dll.
5. Majlis atau saloon kesusastraan
Yang dimaksud dengan majlis atau saloon kesusastraan adalah majlis khusus yang diadakan khalifah untuk membahas berbagai macam ilmu pengetahuan. Pada majlis ini tidak hanya membahas dan mendiskusikan masalah-masalah kesusastraan saja, tetapi juga membahas berbagai macam ilmu pengetahuan (majlis ilmu pengetahuan) dan berbagai kesenian (majlis kesenian)
6. Badiah
Badi’ah adalah dusun-dusun tempat tinggal orang-orang arab (baduy) yang tetap mempertahankan kemurniian bahasa arab, bahkan sangat memperhatikan kefasihan berbahasa. Ba’diah merupakan sumber bahasa asli dan murni.
7. Rumah sakit
Pada masa ini banyak didirikan rumah sakit untuk mewujudkan kesejahteraan umat islam. Rumah sakit ini fungsinya bukan hanya sebagai tempat merawat dan mengobati orang-orang sakit, tetapi juga mendidik tenaga-tenaga yang berhubungan dengan perawatan dan pengobatan, juga diadakan berbagai penelitian dan percobaan dalam bidang kedokteran dan obat-obatan dan juga merupakan tempat praktikum sekolah kedokteran.
8. Perpustakaan
Pada zaman ini para ulama dan sarjana memiliki perpustakaan-perpustakaan pribadi, selain itu berkembang juga perpustakaan-perpustakaan umum yang diselenggarakan oleh oleh pemerintah, contohnya Baitul Hikmah di Baghdad yang didirikan oleh khalifah Harun Al Rasyid. Merupakan salah satu perpustakaan islam yang lengkap, yang didalamnya berisi buku-buku ilmu agama islam dan bahasa arab, bahkan berbagai buku terjemahan dari bahsa yunani, persia, india, qibty dan aramy.
9. Masjid
Pada masa bani abbas masjid dilengkapi berbagai macam sarana dan fasilitas untuk pendidikan. Tempat pengajian para ulama, tempat pendidikan anak, tempat berdiskusi dan munazharah berbagai ilmu pengetahuan. Masjid juga dilengkapi ruang perpustakaan. Jadi fungsi masjid disini ada 3, yaitu:
     1. Tempat berkomunikasi dengan tuhan
     2. Sebagai lembaga pendidikan
     3. Sebagai pusat komunikasi sesama muslim
LEMBAGA PENDIDIKAN ISLAM FORMAL PADA MASA BANI ABBASIYYAH
1. Pengertian Madrasah
Madrasah merupakan isim makan dari fi’il mady “darasa” yang mengandung arti tempat atau wahana untuk mengenyam proses pembelajaran. Dalam sejarah pendidikan islam, madrasah memegang peranan penting sebagai institusi tempat belajar umat islam selama pertumbuhan dan perkembangannya.
Maksud madrasah disini adalah lembaga pendidikan tinggi yang secara luas berkembang di dunia islam pada masa klasik sebelum era universitas.
2. Latar Belakang Berdirinya Madrasah
Sistem pengajaran dan pendidikan yang telah berlangsung di masjid-masjid kemudian berkembang menjadi lembaga pendidikan formal dalam bentuk sekolah-sekolah. Mengenai transformasi dari masjid ke madrasah, berkembang beberapa teori yang secara sepintas berbeda satu sama lain, diantaranya:
a. George Maqdisi berpendapat bahwa perpindahan lembaga pendidikan islam dari masjid ke madrasah terjadi secara tidak langsung, tetapi melalui tahapan perantara, yaitu masjid-masjid. Bahkan dalam kajiannya lebih terfokus pada madrasah Nizhamiyah, ia mengajukan teori, bahwa asal pertumbuhan madrasah adalah hasil perkembangan dari tiap tahap, yaitu tahap masjid, tahap masjid khan dan tahap madrasah
b. Maksum memandang teori ini menarik karena mempertimbangkan lembaga, masjid khan sebelum lembaga-lembaga madrasah berkembang secara luas pada abad pertengahan (maksum, 1999:57)
c. Ahmad syalabi mengemukakan bahwa perkembangan dari masjid ke madrasah terjadi secara langsung, tidak memakai lembaga perantara (ahmad syalabi,19544: 257-259)
3. Faktor-faktor Pendirian Madrasah
Diantara faktor-faktor yang menyebabkan berdirinya sekolah-sekolah di luar masjid adalah
a. Khalaqoh-khalaqoh (lingkaran-lingkaran) untuk mengajarkan berbagai ilmu pengetahuan, yang didalamnya juga terjadi diskusi dan perbedaan yang ramai yang tidak jarang mengganggu orang-orang beribadah didalam masjid
b. Dengan berkembang luasnya ilmu pengetahuan, baik agama maupun umum, diperlukan khalaqoh-khalaqoh yang banyak, yang tidak mungkin seluruhnya tertampung dalam masjid
Disamping itu ada faktor-faktor lain yang mendorong para penguasa dan pemegang pemerintahan untuk mendirikan sekolah-sekolah sebagai bangunan yang terpisah dari masjid, antara lain yaitu:
1) Pada masa turki dalam pemerintahan Bani Abbasiyyah tujuannya untuk mempertahankan kedudukan dan menarik hati kaum muslimin.
2) Para pembesar negara yang hidup dalam kemewahan, mereka mendirikan sekolah untuk mendapatkan simpati rakyat, dan juga berharap mendapatkan ampunan dan pahala dari Allah, karena mereka telah membelanjakan dan mewakafkan harta bendanya dijalan Allah.
4. Asal usul Madrasah
Muhammad Abdurahman Ghanimah, Al Maqrizy dalam karyanya Itti’adz Al Hunafa bi Akhbar Al Aimmah Al Fatimiyyin Al khulafa berpendapat bahwa madrasah dalam islam tidak dikenal pada masa sahabat dan tabiin, melainkan sesuatu yang baru yaitu setelah 400 tahun sesudah hijriyah dan madrasah juga merupakan prestasi abad ke-5 H. Hal ini terbukti dengan didirikannya madrasah pertama pada abad ke-5 H (11 M) yaitu madrasah Nizhamiyahyang didirikan pada tahun 457 H oleh Nizham Al mulk. Namun banyak juga bukti yang nyata bahwa madrasah telah berdiri sejak abad ke-4 H.
Ada 4 hal yang perlu diklarifikasi tentang kehadiran madrasah sebelum lahirnya madrasah Nizhamiyah, yaitu:

  • Abi Ishaq Al Ifriyani (wafat 418 H) adalah orang pertama yang mendirikan madrasah di naisabur (Iran)
  • Abu Hasan Al Baihaqiyah (wafat 414 H) adalah pendiri pertama madrasah Baihaqiyah sekitar tahun 400 H lebih tua dari madrasah yang didirikan Abi Ishaq Al Ifriyani
  • Abi Ishaq bin Ibrahim adalah pendiri madrasah mizan dahiya yang lebih dulu berkembang sekitar dua abad sebelum lahirnya madrasah Nishamiyah
  • Naji Ma’ruf menyatakan bahwa di khurasan telah berkembang 165 tahun sebelum lahirnya madrasah Nizhamiyah (Arma’i Arief,2004: 61)

5. Eksistensi dan Pengaruh Madrasah
Madrasah mempunyai pengaruh yang luas dan monumental, bahkan Al-dailami sebagaimana yang dikutip oleh maksum dari Abd AlGhani Abud mengemukakan bahwa pendidikan universitas-universitas dibarat adalah sebagai inspirasi dan pengaruh madrasah (nizhamiyah). Tradisi akademik barat, secara historis mengambil banyak keuntungan dari tradisi madrasah (maksum, 1999: 75)
Secara sosial keagamaan, madrasah diterima masyarakat muslim pada waktu itu karena dilihat dari beberapa aspek, yaitu:
a. Materi yang diajarkan adalah fiqih yang mereka anggap merupakan kebutuhan masyarakat dalam rangka hidup dan kehidupan yang sesuai dengan ajaran dan keyakinan mereka
b. Ajaran yang diberikan dalam madrasah ialah ajaran sunni
c. Pengajar dimadrasah adalah para ulama yang merupakan panutan dan pembela masyarakat dan dalam pemerintahan sebagai penasihat dan pemberi legitimasi
Pada era modern, madrasah masih tetap eksis, namun demikian, eksistensinya menjadi dipertanyakan ketika kerikulumnya masih di monopoli oleh ulum al naqliyah (islamic sciences). Madrasah sering disebut sebagai lembaga tradisional, karena posisi madrasah sering disebut sebagai lembaga tradisional, karena posisi madrasah yang menaruh jarak dengan sains modern.
KEMUNDURAN PENDIDIKAN ISLAM DIPENGHUJUNG MASA BANI ABBASIYYAH DAN POLA PEMBAHARUAN PENDIDIKAN ISLAM
1. Kemunduran Pendidikan Islam
Pikiran islam menurun setelah abad ke XIII dan terus melemah sampai abad ke XVIII M, sebab-sebab melemahnya pikiran islam antara lain:
a. Satu sisi, Al ghozali telah berlebihan dalam memasukan filsafat islam yang bercorak sufistik kedalam alam islami timur dan sisi lain Ibnu Rusyd telah berlebihan dalam memasukan filsafat islamnya yang bersifat rasional ke dunia islam barat
b. Umat islam, terutama para pemerintahnya (khalifah, sultan, amir-amir) melalaikan dan tidak memberi kesempatan untuk berkembang terhadap ilmu pengetahuan dan kebudayaan
c. Terjadinya pemberontakan-pemberontakan yang dibarengi dengan serangan dari luar. Sehingga menimbulkan kehancuran yang mengakibatkan berhentinya kegiatan pengembangan ilmu pengetahuan dan kebudayaan didunia islam
Kehancuran totalnya adalah yang dialami kota Baghdad dan granada sebagai pusat pendidikan dan kebudayaan islam. Menandai runtuhnya sendi-sendi pendidikan dan kebudayaan islam. Musnahnya lembaga pendidikan dan semua buku-buku ilmu pengetahuan dari kedua pusat pendidikan di bagian timur dan barat dunia islam. Menyebabkan kemunduran pendidikan diseluruh dunia islam, terutama dalam bidang intelektual dan material.
2. Pola Pembaharuan Pendidikan Islam
Golongan yang berorientasi pada pola pendidikan modern dibarat, pada dasarnya berpandangan bahwa sumber kekuatan dan kesejahteraan hidup yang dialami oleh barat adalah sebagai hasil perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi modern
Usaha pembaharuan dapat diklasifikasikan dalam tiga pola pemikiran pembaharuan pendidikan islam, ketiga pola tersebut adalah:
a. Pola pembaharuan pendidikan islam yang berorientasi kepada pola pendidikan modern eropa
Usaha pembaharuan pendidikan islam dalam hal ini adalah dengan jalan mendirikan sekolah-sekolah dengan pola sekolah barat, baik sistem maupun isi pendidikannya. Pola pembaharuan ini dipelopori oleh :
1. Sultan Mahmud II di turki Usmani pada tahun 1807-1839 M
2. Muhammad Ali Pasya di Mesir pada tahun 1805-1848 M
b. Pola pembaharuan pendidikan islam yang berorientasi dan bertujuan untuk pemurnian kembali ajaran islam
Pola ini brpandangan bahwa sesungguhnya islam itu sendiri merupakan dsumber bagi kemajuan dan perkembangan peradaban dan ilmu pengetahuan modern.
Pola pembaharuan ini dirintis oleh Muhammad bin Abd Al wahab, kemudian dicanangkan kembali oleh Jamaluddin Al Afgani dan Muhammad Abduh (akhir abad 19 M).
c. Pola pembaharuan pendidikan islam yang berorientasi pada kekayaan dan sumber budaya bangsa masing-masing dan yang bersifat nasionalisme
Golongan nasionalis ini, berusaha untuk memperbaiki kehidupan umat islam. Dengan memperhatikan situasi dan kondisi objektif umat islam. Bukan semata-mata mengambil unsur-unsur budaya barat tetapi mengambil unsur-unsur yang berasal dari budaya warisan bangsa
3. Akibat Pembaharuan Pendidikan Islam
Sebagai akibat dari usaha-usaha pembaharuan pendidikan islam yang dilaksanakan dalam rangka untuk mengejar kekurangan dan ketinggalan dunia barat dalam segala aspek kehidupan. Usaha pendidikan modern berorientasi pada tiga pola pemikiran (islam murni, barat dan nasionalisme)

MATERI DAN METODE PENDIDIKAN ISLAM PADA MASA KHULAFAUR RASYIDIN DAN BANI UMAYYAH


Intisari ajaran islam adalah apa yang termaktub dalam Alquran . sedangkan hadist atau sunnah Rasulullah yang merupakan penjelasan dari apa-apa yang dimaksudkan oleh Alqur’an.
Diantara materi pelajaran yang esensi yang diajarkan oleh mereka sebagaimana yang telah dilakukan oleh nabi Muhammad Saw, yaitu:

1. Pendidikan tauhid atau keimanan
2. Pendidikan ibadah
3. Pendidikan akhlak, seperti adab masuk rumah orang
4. Pendidikan kesehatan (jasmani)
5. Pendidikan syariah yang berhubungan dengan masyarakat
Yaitu:
a. Hal yang berhubungan dengan rumah tangga
b. Hal yang berhubungan dengan manusia
c. Hal yang berhubungan dengan hukum pidana, seperti Qishash, ta’zir
d. Hal yang berhubungan dengan ekonomi dan pemerintahan
1. Mengajarkan Alqur’an
Untuk memudahkan pengajaran Alqur’an bagi kaum muslimin yang tidak berbahasa arab, maka guru Alqur’an telah mengusahakan antara lain:
1) Mengembangkan cara membaca Alqur’an dengan baik
2) Meneliti cara pembacaan Alqur’an yang telah berkembang pada msa itu
3) Memberikan tanda-tanda baca dalam tulisan mushaf sehingga menjadi mudah dibaca dengan benar
4) Memberikan penjelasan tentang maksud dan pengertian yang dikandung oleh ayat-ayat Alquran yang diajarkan yang kemudian berkembang menjadi ilmu tafsir
LEMBAGA PENDIDIKAN ISLAM, PENDIDIK DAN PSERTA DIDIK PADA MASA AL KHULAFAUR RASYIDIN DAN BANI UMAYYAH
1. Latar Historis
Suatu peristiwa penting dalam sejarah pendidikan islam dimasa setelah nabi Muhammad Saw wafat adalah peristiwa pemberontakan dari orang-orang murtad yang enggan membayar zakat. Serta timbulnya nabi-nabi palsu pada awal kekhalifahan Abu bakar. Para pemberontak tersebut adalah dari kalangan orang-orang baru masuk islam yang belum mantap keislamannya. Mereka masih perlu mendapatkan bimbingan lebih lanjut dalam melaksanakam ajaran –ajaran islam
2. Pusat-pusat Pendidikan Islam
Diantara pusat-pusat pendidikan yang berdiri pada masa Khulafaur Rasyidin dan Bani Umayyah:
a. Masjid
b. Kuttab
c. Majlis
d. Madrasah
1) Madrasah Mekkah
Guru pertama yang mengajar di mekkah ialah Muadz bin Jabal. Ia mengajarkan Alquran serta hukum-hukum halal dan haram pada masa khlifah Abdul Malik
2) Madrasah Madinah  
Madrasah madinah ini lebih termashur, karena disanalah tempat khalifah Abu bakar , Umar bin Khattab dan Ustman bin Affan. Dan disana pula banyak tinggal sahabat-sahabat nabi Muhammad Sw. Diantaranya sahabat yang mengajar di madrasah madinah ini adalah Umar bin Khattab, Ali bin Abi thalib, Zaaid bin Tsabit dan Abdullah bin Umar.
3) Madrasah Basrah
Sahabat yang terkenal di Basrah adalah Abu Musa Al Asy ari dan Anas bin Malik. Abu Musa terkenal sebagai ahli fiqih, hadist dan Alqur’an. Sedangkan Anas bin Malik termasyur dalam ilmu hadist. Diantara guru madrasah Basrah yang terkenal Hasan Al basyri dan Ibnu Sirin. Hasan Basryi terkenal sebagai seorang ahli fiqih, ahli pidato dan kisah dan ahli pikir dan ahli tasawuf. Ia dianggap sebagai perintis madzhab ahli sunnah dalam lapangan ilmu kalam
4) Madrasah Kuffah
Sahabat yang tinggal di Kuffah ialah Ali bin Abi Thalib dan Abdullah bin Mashud. Ali bin Abi Thalib mengurus masalah politik dan urusan pemerintahan sedangkan Abdullah bin Mashud sebagai guru agama. Ibnu Mashud adalah utusan resmi khalifah Umar untuk menjadi guru agama di kuffah
5) Madrasah Damsyik (syam)
Setelah negeri syam menjadi sebagian negara islam dan penduduknya banyak memeluk agama islam, maka Umar bin Khattab mengirimkan 3 orang guru agama ke negeri itu, yaitu Mu’adz bin Jabal, Ubadah dan Abu Al darda. Ketiga guru itu mendirikan madrasah di syam. Mereka mengajarkan Alqur’an dan ilmu agama di negeri syam pada tiga tempat. Yaitu, Abu Darda di Damsyik, Mu’adz bin Jabal di Palestina dan Ubadah di Hinis.
6) Madrasah Fustat (mesir)
Dalam praktek pendidikan pengajaran agama pada awal masa pertumbuhan , ulama-ulama sahabat tersebar keseluruh kota-kota di negeri islam yang terus bertambah luas. Mereka adalah pendiri-pendiri madrasah pada tiap-tiap kota itu. Mereka pun mempunyai keahlian ilmiah yang berbeda-beda dan kepribadian yang berlainan.
Yang termasyur diantara mereka adalah:
1. Abdullah bin Umar di Madinnah
2. Abdullah bin Mas’ud di Kuffah
3. Abdullah bin Abbas di Mekkah
4. Abdullah bin Amr bin Al Ash di Mesir
Empat orang Abdullah ini besar sekali jasanya dalam mengajarkan ilmu-ilmu agama kepada murid-muridnya.
Para sahabat nabi tidak menghafal semua perkataan nabi Muhammad dan tidak melihat semua perbuatannya,. Setengah dari mereka pun tidak menghafal semua hadist nabi. Akibatnya hadist-hadist yang diajarkan oleh ulama di Madinah, misalnya kadang-kadangg tidak dikenal oleh ulama di Kuffah. Hadist-hadist yang telah diajarkan oleh guru-guru di mekkah, kadang-kadang tidak dikenal oleh guru di Mesir. Oleh karena itu, pelajar-pelajar tidak mencukupkan belajar pada seorang ulama di negeri tempat tinggalnya melainkan mereka melawat kekota yang lain untuk melanjutkan ilmunya. Pelajar-pelajar mesir melawat ke Madinah, pelajar madinah melawat ke kuffah, pelajar Kuffah melawat ke Syam. Melawat kian kemari dan begitulah seterusnya. Dengan demikian dunia ilmu pengetahuan tersebar keseluruh kota-kota di negeri islam.
PERKEMBANGAN PEMIKIRAN DAN PERADABAN YANG MENGIRINGI PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN ISLAM PADA AWAL KHULAFAUR RASYIDIN DAN BANI UMAYYAH
1. Perkembangan Pola Ijtihad
Secara umum, Rasulullah sudah memberikan pedoman dan pembelajaran tentang bagaimana cara memberikan keputusan hukum terhadap masalah-masalah baru yang berkembang dalam kehidupan masyarakat. Dalam hal ini ada hadist nabi Saw yang mashur yang menjadi dasar bahwa Rasulullah telah mengajarkan cara mengambil keputusan, yaitu hadist yang berisi tentang dialog Raulullah dengan Muadz bin Jabal ketika diutus Rasulullah ke Yaman untuk menyebarkan ajaran islam dan menjadi pemimpin disana
Petunjuk nabi Muhammad Saw dalam memberikan keputusan hukum tersebut adalah pertama-tama hendaknya dicari ketetapan hukumnya dalam Alqur’an, jika tidak terdapat hendaknya dicari dalam Sunnah atau hadist, dan jika tidak pula terdapat , maka gunakanlah akal pikiran (ijtihad) untuk memberikan ketentuan hukum.
a. Pola ahlu-al-hadist
b. Pola ahlal-ra’yu
2. Perkembangan Pola Pemikiran Islam
a. Pola pemikiran yang bersifat skolastik
b. Pola pemikiran yang bersifat rasional
c. Pola pemikiran yang bersifat bathiniyah dan intuitif
3. Penyempurnaan penulisan Alqur’an
4. Penulisan Hadist
5. Perkembangan ilmu dan sastra
6. Perkembangan ilmu pengetahuan

MASA MASUK DAN BERKEMBANGNYA ISLAM DI INDONESIA



Berbagai teori perihal masuknya Islam ke Indonesia terus muncul sampai saat ini. Fokus diskusi mengenai kedatangan Islam di Indonesia sejauh ini berkisar pada tiga tema utama, yakni tempat asal kedatangannya, para pembawanya, dan waktu kedatangannya. Mengenai tempat asal kedatangan Islam yang menyentuh Indonesia, di kalangan para sejarawan terdapat beberapa pendapat. Ahmad Mansur Suryanegara mengikhtisarkannya menjadi tiga teori besar. 

  • Pertama, teori Gujarat, India. Islam dipercayai datang dari wilayah Gujarat – India melalui peran para pedagang India muslim pada sekitar abad ke-13 M. 
  • Kedua, teori Makkah. Islam dipercaya tiba di Indonesia langsung dari Timur Tengah melalui jasa para pedagang Arab muslim sekitar abad ke-7 M. 
  • Ketiga, teori Persia. Islam tiba di Indonesia melalui peran para pedagang asal Persia yang dalam perjalanannya singgah ke Gujarat sebelum ke nusantara sekitar abad ke-13 M

Disamping itu para kaum pedagang sangat memegang peranan penting dalam persebaran agama dan kebudayaan Islam di Nusantara. Letak Indonesia yang strategis menyebabkan timbulnya tempat perdagangan yang membantu mempercepat persebaran tersebut. Dan yang turut berperan dalam penyebaran islam ialah melalui dakwah yang dilakukan para mubaligh.
Masuknya Islam ke Indonesia terjadi tidak terlalu jauh dari zaman kelahiran islam di jazirah arab. Ada dua faktor yang menyebabkan Indonesia dikenal bangsa-bangsa lain :
a.  Faktor letak geografisnya yang strategis, yaitu berada di persimpangan jalan raya internasional dari jurusan timur tengah menuju tiongkok
b.  Faktor kesuburan tanahnya yang menghasilkan bahan-bahan keperluan hidup yang dibutuhkan oleh bangsa-bangsa lain misalnya rempah-rempah
BERBAGAI KEBIJAKAN PEMERINTAH BELANDA, JEPANG DAN REPUVLIK INDONESIA DALAM BIDANG PENDIDIKAN
Diantara kebijakan pemerintahan belanda dalam membendung bidang pendidikan islam adalah:
  • Pada zaman VOC mereka mengeluarkan perbaikan untuk perbaikan agama kristen dan mendirikan sekolah
  • Ketika Van den Bosh menjadi gubernur jendral di Jakarta pada tahuun 1831 M, diberlakukan kebijakan bahwa sekolah-sekolah gereja dianggap dan diperlakukan sebagai sekolah pemerintah
  • Pada tahun 1819 M, gubernur Van de Capellen mengambil inisiatif merencanakan berdirinya sekolah dasar bagi penduduk pribumi agar dapat membantu pemerintahan belanda
  • Pada tahun 1905, nasihat badan priesteraden menasihatkan agar pemerintah mengeluarkan peraturan yang isinya bahwa orang yang memberikan pelajaran harus minta izin terlebih dahulu
Dalam mendekati umat islam, jepang menempuh kebijakan sesuai berikut :
  • Kantor urusan agama yang pada zaman belanda di sebut kantor Voor Islamistische Saken yang dipimpin oleh orang-orang orientalisten belanda
  • Pondok pesantren yang besar-besar sering mendapat kunjungan dan bantuan dari pembesar-pembesar jepang
  • Sekolah-sekolah negeri di beri pelajaran budi pekerti yang isinya identik dengan ajaran agama
  • Memberikan latihan dasar kemiliteran bagi pemuda islam yang dipimpin oleh KH. Zainul Arifin
  • Pemerintahan jepang mengizinkan berdirinya sekolah tinggi Islam di Jakarta yang dipimpin oleh KH. Wahid Hasyim
Diantara kebijakan pemerintah RI tentang pendidikan islam adalah pembinaan pendidikan agama secara formal institusional dipercayakan oleh pemerintah RI kepada departemen agama pendidikan dan kebudayaan untuk mengelola pendidikan agama disekolah-sekolah umum negri dan swasta. Sementara pembinaan pendidikan agama disekolah agama ditangani oleh departemen agama sendiri.
Sementara hasil SKB dua menteri ini adalah yang dikeluarkan pada bulan januari 1951 yang isinya adalah :
  • Pendidikan agama diberikan mulai kelas IV Sekolah Rakyat (Sekolah Dasar)
  • Di daerah-daerah yang masyarakatnya agamanya kuat. Pendidikan agama diberikan mulai kelas satu Sekolah Rakyat
  • Disekolah  lanjutan tingkat pertama dan tingkat atas diberikan pendidikan agama sebanyak 2 jam seminggu
  • Pendidikan agama diberikan kepada murid murid-murid sedikitnya 10 orang dalam satu kelas dan mendapat izin dari orang tua (walinya)
ORGANISASI DAN LEMBAGA PENDIDIKAN ISLAM DI INDONESIA
Adapun organisasi-organisasi yang berdasarkan sosial keagamaan yang melakukan aktivitas kependidikan islam adalah:
  1. Al Jami Atal Khairiyah
  2. Al Islah Wa Al Irsyad
  3. Perserikataan ulama
  4. Nahdatul ulama
  5. Persatuan islam
JENIS-JENIS LEMBAGA PENDIDIKAN ISLAM DI INDONESIA
a. Lembaga-lembaga pendidikan islam sebelum kemerdekaan
    Di Sumatera madrasah-madrasah banyak bermunculan diantaranya adalah:
  • Madrasah Adabiyah di Pdang Sumatera Barat
  • Madrasah School di daerah Batu sangkar
  • Sekolah Muhamadiyah di Yogyakarta
  • Pondok pesantren (surau)
  • Madrasah Nurul Iman di Jambi
  • Madrasah Sa’adah Al Darain
  • Madrasah Nurul Islam
b. Lembaga-lembaga pendidikan islam sesudah kemerdekaan
   Lembaga pendidikan islam sesudah Indonesia merdeka ada yang berstatus negeri dan ada yang berstatus  swasta. Yang berstatus negeri misalnya:
  • Madrasah Ibtidaiyah Negeri (Tingkat Dasar)
  • Madrasah Tsanawiyah Negeri (Tingkat Menengah Pertama)
  • Madrasah Aliyah Negeri (Tingkat Menengah Atas)
  • Perguruan Tinggi Agama Islam (PTAI)

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More